Selasa, 10 Februari 2015

Pahala Membaca Al-Qur'an


SubhanAllah walhamdulillah ketahuilah sahabat FBku bahwa :
setiap huruf Alqur'an itu mu'zijat,
setiap hurufnya ridho Allah,
setiap hurufnya rahmat Allah,
setiap hurufnya ampunan dosa,
setiap hurufnya dijaga Malaikat,
setiap hurufnya nur cahaya,
setiap hurufnya hidayah,
setiap hurufnya barkah Allah,
setiap hurufnya "syifaaun" obat penyakit jasmani,
setiap hurufnya obat penyakit rohani,
setiap hurufnya sepuluh kebaikan,
setiap hurufnya membuat doa mustajab,
setiap hurufnya penenang hati,
setiap hurufnya menjadi penerang kubur,
setiap hurufnya syafaat di akhirat kelak.
Sudahkah sahabatku hari ini membaca Alqur'an ? Alhamdulillah abang membiasakan sejak diajarkan di pesantren membacanya waktu fajar, setelah magrib, dan nanti malam sebelum rehat. Sungguh tiada kebahagiaan hidup dunia sebentar ini kecuali selalu terus asyik berinteraksi dg Alqur'an, seakan Allah bicara langsung membimbing kita. "Sungguh tiada yang merasakan indahnya, bahagianya hidup bersama Alqur'an kecuali mereka yang sudah tenggelam hanyut merasakannya krn membaca dan mengamalkannya" (Sayyid Qutub). ALLAHUMMA ye Allah rahmatilah hidup kami dg Alqur'an, dan jadikanlah Alqur'an itu imam, cahaya, hidayah dan rahmat untuk kami dan keluarga kami...aamiin. Foto abang oleh akhi Arman selesai baca Alqur'an, lalu tulis hikmah untuk diri abang yang banyak dosa ini, dan kalian sahabatku tercinta krn Allah

Selasa, 03 Februari 2015

KEMBALINYA KHILAFAH DAN IMAM MAHDI DI AKHIR ZAMAN


RuhulBurhan.com- KH Hafidz Abdurrahman

Soal:

Keyakinan kaum Muslim akan kembalinya Khilafah ‘ala Minhaj Nubuwwah semakin meningkat. Namun, ada sebagian yang percaya, bahwa Khilafah akan berdiri sendiri, karena sudah merupakan janji Allah. Caranya, dengan menurunkan Imam Mahdi. Pertanyaannya, benarkan Imam Mahdi yang akan mendirikan Khilafah? Ataukah kaum Muslim yang mendirikannya, kemudian lahirlah Imam Mahdi?

Jawab:

1- Kalaupun ada hadits yang menunjukkan Imam Mahdi akan mendirikan, maka hadits tersebut tetap tidak boleh dijadikan alasan untuk menunggu berdirinya Khilafah. Karena berjuang untuk menegakkan Khilafah hukumnya tetap wajib bagi kaum Muslimin, sebagaimana hadits Nabi:

مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةِ اللهِ لَقِيَ اللهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَحُجَّةَ لَهُ، وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِيْ عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً

“Siapa saja yang melepaskan tangannya dari ketaatan kepada Allah, niscaya dia akan menjumpai Allah pada Hari Kiamat dengan tanpa mempunyai hujah. Dan, siapa saja yang mati sedangkan di atas pundaknya tidak terdapat bai’at, maka dia mati dalam keadaan jahiliyah.” (Hr. Muslim)

Manthuq hadits di atas menyatakan, bahwa “Siapa saja yang mati, ketika Khilafah sudah ada, dan di atas pundaknya tidak ada bai’at, maka dia mati dalam keadaan jahiliyah.” Atau “Siapa yang mati, ketika Khilafah belum ada, dan dia tidak berjuang untuk mewujudkannya, sehingga di atas pundaknya ada bai’at, maka dia pun mati dalam keadaan mati jahiliyah.” Karenanya, kewajiban tersebut tidak akan gugur hanya dengan menunggu datangnya Imam Mahdi.

2- Memang banyak hadits yang menuturkan akan lahirnya Imam Mahdi, namun tidak satupun hadits-hadits tersebut menyatakan, bahwa Imam Mahdilah yang akan mendirikan Khilafah. Hadits-hadits tersebut hanya menyatakan, bahwa Imam Mahdi adalah seorang Khalifah yang saleh, yang akan memerintah dengan adil, dan akan memenuhi bumi dengan keadilan, sebagaimana sebelumnya telah dipenuhi dengan kezaliman dan penyimpangan. Dari Abi Sa’id al-Hudhri ra. berkata, dari Nabi saw. bersabda:

لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى تَمْتَلِيءَ الأَرْضُ ظُلْمًا وَعُدْوَانًا، ثُمَّ يَخْرُجُ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ بَيْتِيْ أَوْ عِتْرَتِيْ فَيَمْلَؤُهَا قِسْطًا وَعَدْلاً كَمَا مُلِئَتْ ظُلْمًا وَعُدْوَانًا

"Hari kiamat tidak akan tiba, kecuali setelah bumi ini dipenuhi dengan kezaliman dan permusuhan. Setelah itu, lahirlah seorang lelaki dari kalangan keluargaku (Ahlu al-Bait), atau keturunanku, sehingga dia memenuhi dunia ini dengan keseimbangan dan keadilan, sebagaimana sebelumnya telah dipenuhi dengan kezaliman dan permusuhan." (Hr. Ibn Hibban)

Dalam riwayat lain, dari Abdullah, dari Nabi Rasulullah saw. beliau bersabda:

لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى يَمْلِكَ النَّاسَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي يُوَاطِىءُ اسْمَهُ اسْمِي وَاسْمَ أَبِيْهِ اسْمُ أَبِيْ فَيَمْلَؤُهَا قِسْطًا وَعَدْلاً

"Hari kiamat tidak akan tiba, kecuali setelah manusia ini diperintah oleh seorang lelaki dari kalangan keluargaku (Ahlu al-Bait), yang namanya sama dengan namaku, dan nama bapaknya juga sama dengan nama bapakku. Dia kemudian memenuhi dunia ini dengan keseimbangan dan keadilan." (Hr. Ibn Hibban)

3- Hanya saja, terdapat riwayat yang menyatakan, bahwa Imam Mahdi tersebut lahir setelah berdirinya Khilafah, bukan sebelumnya. Diriwayatkan dari Ummu Salamah, berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda:

يَكُوْنُ اخْتِلاَفٌ عِنْدَ مَوْتِ خَلِيْفَةٍ فَيَخْرُجُ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ المَدِيْنَةِ هَارِبًا إِلَى مَكَّةَ فَيَأْتِيْهِ نَاسٌ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ فَيَخْرُجُوْنَهُ وَهُوَ كاَرِهٌ فَيُبَايِعُوْنَهُ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْمَقَامِ وَيُبْعَثُ إِلَيْهِ بَعْثٌ مِنَ الشَّامِ فَيُخْسِفَ بِهِمْ بِالبَيْدَاءِ بَيْنَ مَكَّةَ وَالمَدِيْنَةِ فَإِذَا رَأَى النَّاسُ ذَلِكَ أَتَاهُ أَبْدَالُ الشَّامِ وَعَصَائِبُ أهْلِ العِرَاقِ فَيُبَايِعُوْنَهُ، ثُمَّ يَنْشَأُ رَجُلٌ مِنْ الشَّامِ أَخْوَالُهُ كَلْبٌ فَيَبْعَثُ إِلَيْهِمْ بَعْثًا فَيُظْهِرُوْنَ عَلَيْهِمْ وَذَلِكَ بَعْثُ كَلْبٍ وَالْخَيْبَةِ لِمَنْ لَمْ يَشْهَدْ غَنِيْمَةَ كَلْبٍ فَيُقَسِّمُ المَالَ وَيَعْمَلُ فِي النَّاسِ.. وَيُلْقِيَ الإِسْلاَمَ بِجِرَانِهِ فِي الأَرْضِ فَيَلْبَثُ سَبْعَ سِنِيْنَ ثُمَّ يَتَوَفَّى وَيُصَلِّى عَلَيْهِ الُمسْلِمُوْنَ وَفِي رِوَايَةٍ فَيَلْبَثُ تِسْعَ سِنِيْنَ

“Akan muncul pertikaian saat kematian seorang Khalifah. Kemudian seorang lelaki penduduk Madinah melarikan diri ke kota Makkah. Penduduk Makkah pun mendatanginya, seraya memintanya dengan paksa untuk keluar dari rumahnya, sementara dia tidak mau. Lalu, mereka membai’atnya di antara Rukun (Hajar Aswad) dengan Maqam (Ibrahim). Disiapkanlah pasukan dari Syam untuknya, hingga pasukan tersebut meraih kemenangan di Baida’, tempat antara Makkah dan Madinah. Tatkala orang-orang melihatnya, dia pun didatangi oleh para tokoh Syam dan kepala suku dari Irak, dan mereka pun membai’atnya. Kemudian muncul seorang (musuh) dari Syam, yang paman-pamannya dari suku Kalb. Dia pun mengirimkan pasukan untuk menghadapi mereka, hingga Allah memenangkannya atas pasukan dari Syam tersebut, hingga al-Mahdi merebut kembali daerah Syam dari tangan mereka. Itulah suatu hari bagi suku Kalb yang mengalami kekalahan, yaitu bagi orang yang tidak mendapatkan ghanimah Kalb. Al-Mahdi lalu membagi-bagikan harta-harta tersebut dan bekerja di tengah-tengah masyarakat… menyampaikan Islam ke wilayah di sekitarnya. Tidak lama kemudian, selama tujuh atau, dia pun meninggal dunia, dan dishalatkan oleh kaum Muslim. Dalam riwayat lain dinyatakan, tidak lama kemudian, selama sembilan tahun. ” (Hr. At-Thabrani)

Hadits di atas, dengan jelas menyatakan, bahwa akan lahir Khalifah baru setelah meninggalnya Khalifah sebelumnya. Sebagaimana yang dinyatakan dalam lafadz:

يَكُوْنُ اخْتِلاَفٌ عِنْدَ مَوْتِ خَلِيْفَةٍ فَيَخْرُجُ رَجُلٌ

“Akan muncul pertikaian saat kematian seorang Khalifah. Kemudian keluarlah seorang lelaki..” (Hr. At-Thabrani)

Dengan demikian, pandangan yang menyatakan, bahwa Imam Mahdilah yang akan mendirikan Khilafah Rasyidah Kedua jelas merupakan pandangan yang lemah. Demikian juga pandangan yang menyatakan, bahwa tidak perlu berjuang untuk menegakkan Khilafah, karena tugas itu sudah diemban oleh Imam Mahdi, sehingga kaum Muslim sekarang tinggal menunggu kedatangannya, adalah juga pandangan yang tidak berdasar.

Jadi jelas sekali, bahwa Imam Mahdi bukanlah orang yang mendirikan Khilafah, dan dia bukanlah Khalifah yang pertama dalam Khilafah Rasyidah Kedua yang insya Allah akan segera berdiri tidak lama lagi. Karena itulah, tidak ada pilihan lain bagi setiap Muslim yang khawatir akan mati dalam keadaan jahiliyah, selain bangkit dan berjuang bersama-sama para pejuang syariah dan Khilafah hingga syariah dan Khilafah tersebut benar-benar tegak di muka bumi ini.

Minggu, 01 Februari 2015

Apabila Zina dan Riba Telah Merajalela Pada Suatu Kaum



RuhulBurhan.com- Ust.Fatih Karim

Status Zina dan riba sebagai suatu kemaksiatan besar di dalam Islam sudah tidak perlu diperdebatkan lagi. Pelakunya jelas akan mendapat balasan yang berat. Itu kalau kita bicara dalam lingkup personal. Lantas bagaimana jika masalahnya ada pada prilaku masyarakat yang telah menjadikan riba sebagai jantung bagi sirkulasi kegiatan bisnis dan ekonomi? Bagaimana jika seks diluar nikah sudah menjadi gaya hidup dan praktek umum yang tidak bisa dirahasiakan lagi?

Dalam hal ini, ada sebuah hadits yang patut kita jadikan sebagai bahan perenungan. Imam al-Hakim mengeluarkan sebuah hadits marfu’ yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwa Rasulullah saw bersabda:

إذا ظهر الزنا والربا في قرية ، فقد أحلوا بأنفسهم عذاب الله

“Apabila zina dan riba telah tampak nyata dalam suatu kaum, maka mereka benar-benar telah menghalalkan adzab Allah terhadap diri mereka”. (Al-Hakim menyatakan bahwa hadits ini isnadnya shahih, Adz-dzahabi berkomentar dalam At-Talkhish, shohih)

Melihat redaksi yang


digunakan, hadits ini mengandung celaan kepada seluruh penduduk negeri -tanpa kecuali- karena di tengah-tengah mereka dipraktekkan zina dan riba secara nyata, meski pun tindakkan tersebut tidak dilakukan oleh semua penduduk. Kenapa celaan jatuh kepada seluruh penduduk padahal tidak semuanya mempraktekkan zina dan riba? Jawabnya karena kedua dosa besar itu tidak mungkin bisa dipraktekkan secara demonstratif di tengah-tengah mereka kecuali jika keduanya dibiarkan terjadi tanpa ada yang mencegah. Dalam kondisi inilah Allah mencela mereka semua, baik yang melakukan kemaksiatan maupun orang-orang yang membiarkan kemaksiatan itu terjadi di bawah pengetahuan mereka. Maka, isi hadits ini selaras dengan sabda Rasulullah saw, yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad

إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ ، أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمْ اللَّهُ بِعِقَابِهِ

“Sesungguhnya, apabila manusia melihat orang yang berbuat dzalim, kemudian mereka tidak mencegahnya, maka hampir-hampir Allah hendak meratakan hukumanNya kepada mereka”.

Semoga tulisan ini jadi renungan untuk kita semua. Sahabat memang pahit mendengarkan suatu kebenaran. Tapi akan lebih pahit jika tidak melaksanakannya.

JENIS-JENIH NAFSU


RuhulBurhan.com- KH.Arifin Ilham
Assalaamu alaikum wa rahmatullaahi wa barkaatuhu.

Sahabat sholehku mari kenali “nafsu” yg bersemai pada setiap insan dan diri kita:

1- Nafsu Ammarah (QS Yusuf 53), ini adalah nafsu yg hanya puas kalau sudah ma’siyat, sangat tidak suka ibadah, benci nasehat kebaikan & ketaatan kpd Allah. Seperti, senang berzina, sangat pemarah, hobby mabuk, benci ulama, ketagihan makan haram, korupsi dsb.

2. Nafsu Lawwamah (QS al Qiyamah 2), nafsu standar ganda, dari kata “laima” mencela dirinya setelah berbuat ma’siyat lalu sangat menyesal tetapi tidak lama kemudian ketagihan lagi. Seperti, sholatnya rajin tetapi masih suka berzina, tentu yg salah bukan sholatnya, pelakunya yg belum faham tujuan, makna dan hikmah sholat kecuali sholat sekedar. Kalau sholat itu benar benar dihayati buahnya jauh dari ma’siyat, “Sesungguhnya sholat itu mencegah zina dan mungkar” (QS al Ankabut 45) atau sudah haji tetapi korupsi dsb,

3. Nafsu muthmainnah, ini nafsu hamba Allah yg sholeh (QS Ar Ro’du 28) “almuqorrobuun” (QS al Waqiah 88) senangnya ibadah, semangatnya beramal, hatinya lebut, dermawan, rendah hati, istiqomah, suka sekali duduk di mesjid, majlis ilmu, cinta ulama, amat sangat takut ma’siyat, malah ia heran melihat orang berani ma’siyat, sedih sekali kalau bangun terlambat sholat malam, muhasabah diri sama sekali tidak tertarik melihat aib orang lain, air matanya mudah menetes ta’kala sholat, membaca Alqur’an dan berzikir.
"Allahumma ya Allah jauhkan kami dari nafsu yg membuat kami ma’siyat kpdMu dan bimbinglah nafsu kami menjadi muthmainnah nafsu mendekat kpdMU…aamiin